Bostonprice Asia Articles

Menjaga Keseimbangan Ekosistem

29 Agu

By Anab Afifi   |   In Annual Report Review

     Pekerjaan ini tidak ada habisnya. Melewati bulan Agustus ini, semua akan kembali bersiap untuk mengisi hari-hari panjang. Hari-hari pengerjaan annual report. Maksudnya, rangkaian proses proyek-proyek penyusunan annual report akan kembali berdegub. Mesin-mesin akan kembali dibunyikan.

Memang, kita baru saja selesai melakukan finalisasi pengerjaan proyek tahunan. Yaitu berupa pengisian kriteria ARA. Namun, dalam dua pekan ke depan, begitu memasuki bulan September 2019, berbagai undangan pitching sudah akan mulai berdatangan. Dus, kembali lagi kesibukan itu.

Teman-teman penulis annual report atau pun konsultan annual report, dan semua orang yang terlibat dalam proyek ini, tentu sudah fasih dengan apa yang sering dilafal dengan sustainability. Keberlanjutan usaha.

Kata ini tiba-tiba mengusik pikiran saya. Sudah entah berapa banyak sesi, penjelasan, diskusi, workshop bahkan seminar, di mana saya ikut aktif barbicara tentang pentingnya perusahaan-perusahaan penerbit annual report itu membangun suatu pola, mekanisme dan sistem organisasi yang menjamin keberlanjutan usaha.
Saya yakin teman-teman juga sangat fasih berbicara tentang sustainability ini kepada klien-klien mereka. Saya pun mencoba demikian. Namun, apakah teman-teman sempat bertanya bagaimana dengan sustainabilitas sistem kerja penyusunan annual report itu sendiri. Mereka para pemilik agency maupun para konsultan, apakah juga berpikir tentang keberlanjutan mereka atau organisasi mereka juga?

Jangan sampai mereka, juga saya tentunya, terkena hukum yang dalam pepatah Jawa disebut Jarkoni: Iso ngajari ora iso nglakoni. Bisa mengajarkan tetapi dirinya sendiri tidak bisa menjalankan.

Menurut hemat saya, sistem kerja penyusunan annual report itu, saat ini sudah tidak bisa lagi dilakukan dengan cara-cara seperti kemarin-kemarin. Di mana seorang penulis atau konsultan, memperlakukan diri mereka atau dengan sadar senang diperlakukan seperti Hercules. Manusia sakti yang mampu mengerjakan apa saja dan semuanya sendirian. Cara demikian sungguh tidak menjamin sustainability. Melanggar sunnatullah.

Sesakti-saktinya para penulis atau konsultan, otak mereka cuma satu. Jari tangan mereka cuma sepuluh. Pasti ada masa-masanya untuk jeda atau bergantian. Untuk menyetel kembali bahasa otak dan ritme tubuh. Melakukan jeda, entah karena urusan mendadak atau halangan.

Untuk itu, agency atau perusahaan konsultan, mesti menjaga ecosystem yang baik. Dengan cara menyusun formulasi sistem kerja yang ritmik dan harmonis. Maksudnya, tidak tergantung pada individu-invidu tertentu. Tetapi bagaimana sistem itu mampu menciptakan suatu kolaborasi yang berkelanjutan.

Seiring dengan meningkatknya kemampuan daya cipta sistem yang terjaga dengan baik, tentu organisasi agency itu memiliki keberlanjutan usaha yang baik pula. Dan hukum ini sudah berlaku. Uamanya, bagi agency yang tidak memiliki penulis in house.

Celakanya, hampir semua agency memang tidak punya penulis sendiri.

Memang sih. Tidak ada keharusan. Namun, itu dibutuhkan suatu mekanisme sinergi antara agency dan penulis dalam format yang berkelanjutan. Bukan insidentil. Sporadis. Atau hit and run.

Jika sinergi itu dipahami sebagai kawin, ya kawinlah segera. Jangan cuma pacaran atau hubungan tanpa kejelasan status. Dan saya sendiri, siap menjalin hubungan siapa saja, yang tidak hanya sebatas pacaran. Menurut saya, inilah satu-satunya jalan untuk menjaga ecosystem bisnis annual report yang berkelanjutan.

Sumber : Annual Report Review

Sign up for newsletter

Silahkan isi email anda untuk berlangganan informasi dan artikel terbaru kami

logo